Buenos Aires (KABARIN) - Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel Bermudez mengecam keras tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei yang terjadi dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel. Menurutnya, peristiwa tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Dalam pernyataan yang disampaikan pada Minggu (1/3), Diaz-Canel menilai tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan dari sudut pandang hukum global maupun stabilitas internasional.
“Tindakan keji ini merupakan pelanggaran terhadap semua norma hukum internasional,” kata Diaz-Canel melalui platform X.
Khamenei dilaporkan gugur setelah kantornya menjadi sasaran tembakan rudal dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2) dini hari. Serangan tersebut menjadi salah satu momen paling dramatis dalam eskalasi konflik terbaru di Timur Tengah.
Pemerintah Iran langsung merespons dengan menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari. Selain itu, aktivitas nasional juga dihentikan sementara selama sepekan sebagai bentuk penghormatan atas wafatnya pemimpin tertinggi negara tersebut.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bersama angkatan bersenjata Iran turut mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan komitmen untuk membalas kematian Khamenei.
Selain kecaman politik, Presiden Kuba juga menyampaikan belasungkawa kepada rakyat serta pemerintah Iran. Ia menyebut Khamenei sebagai sosok penting yang berperan dalam memperkuat hubungan persahabatan antara Iran dan Kuba, serta negara-negara Amerika Latin lainnya.
Sebelumnya, pada Sabtu (28/2), Amerika Serikat dan Israel melancarkan rangkaian serangan terhadap sejumlah target di wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan itu dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban sipil.
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan berupa rudal yang diarahkan ke wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Pemerintah Iran menyebut langkah tersebut sebagai bentuk pertahanan diri atas serangan yang mereka terima.
Situasi ini membuat tensi geopolitik global semakin memanas, dengan banyak negara mulai menyuarakan sikap dan kekhawatiran terhadap potensi meluasnya konflik di kawasan tersebut.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026